Senin, 29 April 2013

Fungsi Apresiasi dan Kritik dalam Pendidikan Seni Rupa

Fungsi Apresiasi dan Kritik
dalam Pendidikan Seni Rupa

A. Apresiasi dalam Pendidikan Seni Rupa

Salah satu aspek pembelajaran yang cukup penting dalam pendidikan seni rupa adalah apresiasi. Dalam bahasa sederhana, apresiasi berarti menerima, menghargai melalui proses yang melibatakan rasa dan fikir. Kegiatan apresiasi seni di masyarakat kita, begitu juga dalam penyelenggaraan pendidikan seni di kelas, sampai saat ini masih terbatas sekali dalam arti belum banyak dikembangkan. Walaupun sesungguhnya pada masa sekarang, anak-anak memiliki lebih banyak peluang untuk meningkatkan apresiasi dibandingkan dengan zaman dahulu. Kini teknologi elektronika, khususnya reproduksi dan percetakan sudah maju. Karya-karya terkenal dapat diperlihatkan guru kepada para siswa di sekolah. Pameran-pameran seni juga lebih sering diselenggarakan.
Tetapi yang lebih penting lagi, peningkatan apresiasi dapat dilakukan dari tingkat dasar yang sederhana, dari karya-karya siswa sendiri dan teman-temannya, dilakukan guru di dalam kelas. Peningkatan kepekaan apresiasi merupakan gabungan antara aspek : mata (pengamatan) dan rasa (penghayatan), melalui teknik bertanya dan menunjukkan unsur-unsur menarik dari suatu karya.
Secara lebih luas, apresiasi dilakukan bukan hanya terhadap karya seni tetapi juga terhadap keindahan di alam. Siswa diajak “melihat” keindahan yang ada di mana-mana. Keindahan atau kemenarikan hasil karya ditunjukkan guru (lebih tepat: disarankan), dengan catatan bukan mutlak harus diterima siswa. Dengan banyaknya melihat unsur-unsur yang indah/artistik, maka terciptalah pola gambaran mental pada dirinya tentang apa-apa yang dianggap kebanyakan orang sebagai hal yang indah/seni. Selanjutnya ia akan memilih, hal-hal apa yang secara individual menarik bagi dirinya. Di sinilah letak kebebasan siswa untuk menerima atau menolak, menyenangi atau kurang menyenangi sesuatu yang memungkinkan dirinya memiliki kepekaan individual (sebagai apresiator) maupun gaya individual (jika ia berkarya).  
Menurut Lowenfeld (1982), diskusi tentang aspek-aspek desain (harmoni, keseimbangan, ritme, kesatuan, pusat perhatian, dsb) akan membentuk kesadaran anak terhadap kualitas baik-buruk karya seni dan dengan demikian apresiasi seni akan terbentuk. 
Hal-hal yang dibicarakan dalam diskusi tersebut meliputi antara lain :
1.      Judul-judul atau objek yang digambarkan: apa yang tampak, apa yang aneh, apa yang menarik. Pada tahap usia SD, yang disukai anak umumnya penggambaran secara visual yang “hidup”, bukan karya-karya abstrak atau yang memerlukan renungan mendalam. 
2.      Warna. Dipertanyakan mana yang disukai, mana warna yang kurang kuat (kabur), mana yang menurut mereka aneh atau ganjil.
3.      Penempatan. Dipertanyakan, bagaimana kesesuaian ukuran gambar dengan bidang gambar, distimulasi perlunya keseimbangan, untuk meningkatkan kepekaan komposisi.
4.      Pemanfaatan media. Dipertanyakan kemungkinan-kemungkinan teknik penggunaan media, sifat khas media serta cara-cara orang lain yang berhasil menggunakannya.
Perlu dikemukakan di sini bahwa pengembangan apresiasi seni untuk SD hendaknya lebih diutamakan secara terpadu dengan kegiatan praktek, jadi bukan tersendiri misalnya dua jam pelajaran memberi ceramah tentang macam-macam apresiasi seni. Anak dapat dibimbing untuk mendiskusikan karyanya sendiri atau mengapresiasi karya temannya

B. Kritik Seni dalam Pendidikan Seni Rupa

Kritik Pedagogik (Pedagogical Criticism) adalah tipe kritik yang dilakukan oleh seorang guru (pendidik) terhadap karya siswanya dalam usaha mengembangkan proses pembelajaran yang bermuatan kreasi dan apresiasi. Dalam rangka proses pembelajaran siswa, seorang pendidik memiliki peranan sebagai pekritik karya-karya siswa sebagai motivasi, responsi, evaluasi, reinforcement. Peranan pendidik tersebut sangat berfungsi untuk membina kemandirian kreasi dan ekspresi diri anakdidik (Siswa). Tidak menghakimi siswa dengan putusan nilai  yang kuantitatif, namun lebih mengarah kepada penguatan  the student’s artistic personality.
Jika kita tinjau dari sudut kependidikan, kritik menempati  posisi yang integratif dengan sistem pembelajaran.  Kritik dalam proses belajar - mengajar akan selalu muncul  tak terpisahkan dengan dengan metoda mengajar, strategi belajar-mengajar, dan evaluasi. 
Kritik lisan yang disampaikan Pendidik dalam kelas terhadap karya Siswa sebagai bukti bahwa Pendidik berusaha untuk membangun artistic personality Siswa.  Hal itu tidak lepas dari keseluruhan proses pembelajaran.  Berbeda dengan evaluasi. Evaluasi diberikan oleh Pendidik kepada Siswa dalam upaya untuk mengetahui keberhasilan proses belajar - mengajar, dan dilakukan di akhir suatu program (misalnya tes formatif, sumatif, dsb.). Evaluasi terpisah dari keseluruhan proses pembelajaran. Pembobotan nilai dalam kritik pun berbeda dengan evaluasi biasa.
C. Pendidikan melalui Kritik dan Apresiasi Seni
Pembelajaran apresiasi dan kritik seni tidak saja berfungsi dalam pembelajaran seni tetapi dapat juga diimplementasikan untuk pembelajaran lainnya. Implementasi kritik dan apresiasi menumbuhkan sikap yang mendukung anak dalam: (1) pembelajaran sosial, (2) membangun kemitraan dengan komunitas, (3) menjadi peneliti yang aktif, (4) menjadi komunikator yang efektif dan (5)  partisipasi dalam kehidupan yang saling berketergantungan.
1. Pembelajaran Sosial
Kompetensi untuk menilai dan menghargai karya seni menumbuhkan sikap untuk menghargai fenomena sosial lainnya. Ketika para siswa mengambil bagian dalam apresiasi praktek seni yang ada di masyarakat, mereka mengembangkan suatu pemahaman tentang dinamika masyarakat dalam konteks budaya, sosial, ekonomi dan historis tertentu dan berbagi makna sosial yang diproduksi dan dihargai oleh kelompok masyarakat tersebut. Melalui kegiatan dan pengalaman ini, para siswa mengembangkan keterampilan interaktif, kepercayaan sosial, pemahaman dinamika kelompok dan kemampuan untuk merundingkan dalam kelompok ketika mereka bekerja ke arah suatu tujuan bersama. Hal ini akan mendidik mereka untuk memahami perasaan mereka sendiri, tanggapan secara emosional dan orang lain seperti halnya ketika mereka terlibat dalam, dan merefleksikan, sebuah pengalaman seni. Kondisi ini membawa mereka ada dalam situasi yang memungkinkan untuk berempati dengan yang lain, berbagi kegembiraan, mengatur frustrasi dan menghadirkan perasaan ketika menciptakan produk seni.

 

2. Membangun kemitraan dengan komunitas

Apresiasi seni dapat menciptakan kebersamaan di antara para siswa dan anggota sekolah, masyarakat sekitar dan komunitas seni. Kemitraan ini melibatkan siswa dalam pendekatan dengan banyak orang, pengalaman dan konteks. Beberapa siswa dapat mengakses manfaat pribadi melalui pengalaman seni yang ada di masyarakat ini seperti halnya pengalaman belajar yang diciptakan di sekolah. Mengembangkan kemitraan dengan pihak yang menawarkan keikutsertaan dalam berbagai program seni memungkinkan untuk menghubungkan pelajaran di dalam sekolah dengan realitas yang ada dimasyarakat. Kemitraan juga menyediakan peluang untuk menginformasikan masyarakat tentang pendidikan di dalam dan melalui aktivitas seni.
Dengan asumsi sumber daya masyarakat dan sekolah berbeda, aktivitas belajar dapat diperkaya dengan membangun kemitraan dengan orang lain pihak yang terlibat dalam seni. Orang tua, anggota masyarakat, pengurus seni (arts administrators), seniman lokal, para guru dan para pekerja industri seni dapat memberi dukungan dengan berbagi kegiatan, pengalaman, keahlian, keterampilan dan cara kerja mereka menggunakan material serta praktek.
Kemitraan dengan komunitas dapat juga memperkaya aktivitas pelajaran yang ditawarkan ke para siswa dengan menyediakan akses ke peralatan, fasilitas, musium, dan kegiatan seni di masyarakat. Pengertian yang mendalam terhadap praktek seni dapat disajikan melalui pengalaman seniman dalam program sekolah, karya seni yang asli dan “ruang” aktivitas seni di luar kelas, “ruang” publik dan “ruang” virtual. Kegiatan ini berharga bagi para siswa dan anggota masyarakat karena memiliki peluang untuk berinteraksi dan berkolaborasi pada proyek seni dalam situasi belajar di kehidupan nyata.
Penghargaan dan pemahaman tentang keaneka ragaman budaya dan sifat alami saling berhubungan antara seni dan budaya mungkin dieksplorasi dengan jalan yang penuh makna. Hal ini ditingkatkan melalui representasi praktek seni dan seniman-seniman tradisi yang lahir dari budaya asli yang ada di masyarakat ke dalam lingkungan sekolah.
Kemitraan dengan masyarakat pedalaman dan penduduk asli, misalnya, menyediakan peluang belajar yang cukup esensial bagi siswa. Masyarakat semacam ini sering mempunyai kultur dengan suatu orientasi lisan dan pendekatan holistik kepada transmisi pengetahuan budaya. Ekspresi dari identitas budaya, sejarah, hukum, hubungan dengan alam dan sistem kekerabatan melalui suatu variasi makna artistik menyediakan pengalaman belajar yang kaya bagi para siswa. Untuk menciptakan dan memelihara kemitraan dengan masyarakat pedalaman atau penduduk asli, peserta belajar harus menghormati protokol dan prosedur yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Efektivitas dari proses pembelajaran melalui program kemitraan ini, dapat dilakukan dengan mencari pembimbing (guidance) dari kelompok pribumi, organisasi dan anggota masyarakat yang relevan.
3. Menjadi peneliti yang aktif
Melalui kegiatan apresiasi dan kritik pada dasarnya siswa melakukan kegiatan penelitian. Sebagai peneliti yang aktif, para siswa membangun makna melalui apresiasi dan kritik apa yang mereka selidiki, uraikan dan prediksi. Mereka mempelajari dan menemukan sendiri jalan yang efektif untuk mengakui adanya berbagai perspektif dan untuk menghadapi tantangan perbedaan pandangan, metoda dan kesimpulan. Para siswa menggunakan berbagai teknik dan teknologi dan menerapkannya dalam apresiasi dan kritik untuk menyelidiki dan menganalisa secara tekstual maupun kontekstual. Sikap ini akan membantu kepekaan siswa terhadap aspek gagasan yang bersifat intuitif dan berlangsung sesaat dari banyak proses dan produk seni sehingga peluang terhadap penemuan dapat segera dikenali dan diselidiki (dikaji dengan kritis).
4. Menjadi komunikator yang efektif
Mempresentasikan tanggapan dalam pembelajaran kritik dan apresiasi dapat mendorong siswa menjadi komunikator yang efektif. Kompetensi ini menuntut para siswa mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan dengan penuh percaya diri di dalam berbagai konteks dan untuk komunikan yang berbeda. Mereka belajar untuk menggunakan berbagai sistem simbol, bahasa, bentuk dan proses seni ketika merumuskan, mengkomunikasikan serta membenarkan pendapat dan gagasan. Para siswa memahami bahwa karya seni berfungsi juga sebagai media komunikasi yang membawa nilai-nilai didalamnya sebagai konstruksi kenyataan dan imajinasi, serta mempunyai kapasitas untuk menimbulkan tanggapan.

 5.  Partisipan dalam kehidupan yang saling berketergantungan.

Dengan mengambil bagian, mengapresiasi dan mengkritisi pengalaman, produk dan capaian seni, para siswa mulai untuk mencerminkan, bereaksi dan mengevaluasi peran seni di dalam masyarakat yang berbeda. Para siswa mengembangkan suatu pemahaman yang meningkatkan kualitas diri mereka sebagai anggota budaya dan masyarakat masa lampau, hari ini dan masa depan di mana mereka dapat berkontribusi didalamnya.
Melalui negosiasi dan bekerja sama dalam pengambilan keputusan, serta aktif secara efektif di dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama, para siswa belajar mengidentifikasi dan menerapkan keterampilan antar budaya dan antar pribadi yang berbeda. Kemampuan ini dapat mengembangkan suatu kapasitas untuk mengatasi kerancuan dan kompleksitas di dalam dunia dari perubahan budaya, sosial, teknologi dan ekonomi yang cepat terutama dalam era globalisasi saat ini (lihat Duncum, 2001)
Rangkuman
Salah satu aspek pembelajaran yang cukup penting adalah apresiasi. Dalam pembelajaran seni rupa, peningkatan apresiasi dapat dilakukan dari tingkat dasar yang sederhana, dari karya-karya siswa sendiri dan teman-temannya, dilakukan guru di dalam kelas. Peningkatan kepekaan apresiasi merupakan gabungan antara aspek: mata (pengamatan) dan rasa (penghayatan), melalui teknik bertanya dan menunjukkan unsur-unsur menarik dari suatu karya.
Kritik Pedagogik (Pedagogical Criticism) adalah tipe kritik yang dilakukan oleh seorang guru (pendidik) terhadap karya siswanya dalam usaha mengembangkan proses pembelajaran yang bermuatan kreasi dan apresiasi. Dalam rangka proses pembelajaran siswa, seorang pendidik memiliki peranan sebagai pekritik karya-karya siswa sebagai motivasi, responsi, evaluasi, reinforcement. Peranan pendidik tersebut sangat berfungsi untuk membina kemandirian kreasi dan ekspresi diri anakdidik (Siswa). Guru tidak menghakimi siswa dengan putusan nilai  yang kuantitatif, namun lebih mengarah kepada penguatan  the student’s artistic personality.
            Pendidikan melalui Kritik dan Apresiasi Seni memberikan manfaat dalam (1) pembelajaran sosial, (2) membangun kemitraan dengan komunitas, (3) menjadi peneliti yang aktif, (4) menjadi komunikator yang efektif dan (5)  berpartisipasi dalam kehidupan yang saling berketergantungan.

Konsep Pendidikan Seni

Konsep Pendidikan Seni
Kegiatan Belajar 1
Konsep Pendidikan Seni di Sekolah Dasar
Salah satu fungsi pendidikan adalah menyeimbangkan kinerja otak kanan (mengembangkan kedisiplinan, keteraturan, dan berpikir sistematis) dan otak kiri (mengembangkan kemampuan kreasi yang unstructured seperti ekspresi, kreasi, imajinasi, yang tidak membutuhkan siistematika kerja agar terjadi perpaduan gerak yang dinamis). Kelompok mata pelajaran berbasis berpikir sistematis adlah matematika, IPA, sedangkan kelompok mata pelajaran berbasis kemampuan kreasi unstructured berpikir seperti kesenian, agama, dan IPS.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ternyata seni dapat membantu pengembangan daya pikir anak,mengembangkan kepekaan anak, dapat membantu memahami materi pelajaran lain, dan melalui kegiatan produksi karya seni mampu membangkitkan karsa anak.
Kegiatan Belajar 2
Fungsi Pendidikan Seni
Pendidikan seni dapat berfungsi diantaranya sebagai media ekspresi, sebagai media komunikasi,dansebagai media pembinaan kreatifitas, serta media pengembangan hobi dan bakat.
Seni melatih anak mengungkap isi hati dan pikiran yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Seni memberikan kesempatan ide dan pikiran di ungkapkan melalui gerakan sehingga berwujud tarian, demikian pula seni memberi kesempatan mengungkapkan yang dirasakan, gagasan, dan pikiran anak melalui rangkaian nada dan suara atau mewujudkan dalam bentuk gambar.
Seni sebagai media komunikasi dapat dilihat pada anak menginformasikan gagasan, perasaan, dan pikirannya lewat medium suara, gerak dan bentuk yang dapat melengkapi ungkapan bahasa verbal.
Melalui pendidikan seni memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang sesuai dengan naluri dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari-hari secara mandiri melalui tiga medium, yakni gerak yang dilatihkan melalui pembelajaran tari, suara yang dilatihkan melalui pembelajaran music, dan kreatifitas mencipta bentuk sebagai inbond activity melalui pembelajaran seni rupa.

Kegiatan Belajar 3
Ruang Lingkup Pendidikan Seni
Pengetahuan seni rupa: kognisi seni(pengetahuan keilmuan), apresiasi seni, dan berpengalaman kreasi (produksi) seni.
Pengetahuan organis adalah pengetahuan yang dapat dipelajari secara berkesinambungan dan saling berkaitan dengan pengetahuan lain.pengetahuan linier anorganik adalah pengetahuan yang mempunyai susunan tidak teratur; oleh karenanya kapan saja pengetahuan ini disebutkan akan mempunyai arti yang berbeda.
Dalam berapresiasi seni terdapat beberapa tahap, yakni surprise – empati – estetik – feeling of content – etis – simpatik.
Dalam proses produksi seni anak akan menggunakan pengetahuan kognisi, yaitu pengetahuan yang sistematis dan mampu diungkapkan pada suatu ketika, serta memanfaatkan pemahamannya tentang bentuk secara apresiatif.
Kegiatan Belajar 4
Karakteristik Pendidikan Seni di SD
Konsep pendidikan seni diangkat dari substansi produksi seni dengan substansi pendidikan; oleh karenanya pendidikan seni merupakan bagian dari pendidikan umum, sama seperti halnya dengan matematika, bahasa, agama dan lainnya.
Pendidikan seni membina pengembangan rasa melalui produksi atau berperilaku seni dan pelatihan kepekaan emosional seni yang berisi pengetahuan tentang keindahan. Pengetahuan seni sendiri terdiri dari  kognisi seni yang teratur maupun yang tidak yang berasal dari berapresiasi terhadap karya dan penciptanya. Disamping itu melalui produksi seni anak akan mengenal dan memahami secara langsung seni dan keindahan.
Dari perilaku produksi seni tersebut dapat dicptakan strategi dan model pembinaannya di sekolah dasar; strategi pendekatan belajar seni melalui pembelajaran teori seni disebut dengan pendekatan definisi, melalui praktek langsung  berkarya atau disebut dengan pendekatan partisipasi dan terakhir adalah pendekatan eksplorasi jika guru meminta anak melakukan pengamatan, wawancara, studi dari dokumen secara mandiri.
Sedangkan model yang digunakan untuk membelajarkan seni adalah:
1.         Model bermain karena pada hakekatnya berseni sebagai kegiatan permainan imajinasi, kreasi maupun fisik.
2.         Model pendidikan kreatif yang menjuruskan proses pembinaan melalui kebebasan mencipta, berperilaku produksi maupun mengolah objek menjadi sesuatu yang baru (iinovasi seni).
3.         Model pendidikan integrative karena sebenarnya kegiatan berseni membutuhkan kerja otak (kanan dan kiri), kerja rasa (emosional artistik), serta psikomotor yang tinggi dengan pelatihan keterampilan yang tinggi pula.
Ketiga pengetahuan ini berisi sebenarnya juga pelatihan mengungkapkan ide (komunikasi) dan mewujudkan ide agar orang lain paham akan ucapannya (bahasa visual), serta sebagai pelatihan imajinasi dan mengungkapkan gagasan yang tinggi tentang diri dan lingkungannya.

Penciptaan Karya Seni Rupa Anak SD

Penciptaan Karya Seni Rupa Anak SD
Kegiatan Belajar 1
Mencipta Karya Seni Rupa Dwimatra
Menggambar adalah memindahkan objek dengan media dua dimensi dengan mengambil objek yang berupa benda-benda disekelilingnya dan digambarkan langsung berbentuk realistis.
Posisi benda elips yang diletakkan tepat pada titik cakrawala akan kelihatan persegi empat, benda elips yang diletakkan  berada dibawah titik cakrawala akan kelihatan elips bagian atas, sedang apbila benda elips diletakkan berada diatas cakrawala maka akan kelihatan elips bagian bawah.
Ilustrasi merupakan jenis gambar yang mempunyai tujuan membantu memperjelas sebuah naskah. Tetapi ada juga ilustrasi yang berdiri sendiri karena naskah sudah dapat bercerita.
Meggambar teknik adalah menggambar dengan bantuan peralatan mistar yang mempunyai tujuan merekonstruksi objek yang memiliki nilai proyeksi dan perspektif.
Menggambar ornament memiliki tujuan menghias pada benda lain sehingga menambah keindahan. Adapun motif-motif yang dipakai adalah bentuk tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia yang di gayakan (deformasi) menjaid hiasan dan bentuk geometris.
Finger painting merupakan bentuk cara melukis dengan menggunakan jari jemari langsung tanpa menggunakan alat kuas, palet dan lain-lain.
Kegiatan Belajar 2
Mencipta Karya Seni Rupa Trimatra
Bentuk karya seni rupa trimarta memiliki tiga ukuran, yaitu panjang, lebar, dan volume/ isi. Sehingga karya trimarta dapat dilihat dari segala arah. Contoh: patung, maket, taman, dan bangunan.
Membuat karya seni rupa tiga dimensi membentuk dengan media tanah liat, langkah awalnya membuat bentuk global kemudian dikeruk sedikit demi sedikit menggunakan sudip kemudian ditekan-tekan agar sesuai dengan keinginan menggunakan butsir.
Membentuk dengan menggunakan media keras (batu, kayu, tembaga) menggunakan teknik pahat dan ukir.
Membentuk dengan media lunak tetapi tidak memiliki daya rekat/lunak (semen, gibs, plastic, tembaga) menggunakan cor.
Kegiatan Belajar 3
Menyusun Tugas Mencipta Karya Seni Rupa untuk Anak SD
  1. Baik menggambar maupun membentuk bagi anak mempunyai kedudukan yang sama, oleh karenanya dapat digunakan secara kolaboratif (menjadi satu tugas) atau pun sendiri-sendiri sesuai dengan aspek yang dikembangkan.
  2. untuk mengembangkan materi pelajaran, seorang guru sebaiknya memahami kebutuhan dasar berdasarkan aspek terlebih dahulu serta dikaitkan dengan kompetensi yang akan dicapai.
  3. teknik dan bahan berkarya sangat luwes, dapat diperoleh dari bahan serta medium standar maupun kreasi. Pada hakekatnya berkarya seni rupa dapat didekati dengan teknik bermain, oleh karenanya guru dapat melakukan banyak eksperimentasi bahan, misalnya:
-menggambar langsung dikertas dengan pensil, krayon, cat.
-menggambar dengan menumpangi kertas dengan lilin, krayon yang berminyak kemudian diselesaikan dengan cat air.
-menggambar menoreh/menggores; kertas yang diwarna dengan krayon ditumpang lagi dengan pastel kemudian ditoreh/gores sehingga muncul warna latarnya.
-Menggambar dengan jari-jari langsung, tentu saja cat air yang dipekatkan dengan bahan lem cair.
-mengubah, menumpangi gambar yang termuat dikoran kemudian diubah bentuknya (bukan mewarna)
-Meniup berwarna cair diatas kertas
-mengibaskan warna cair yang sudah dituangkan di atas kertas
-Menera (mencetak) dengan berbagai macam klise; cukil atau bahan yang sudah jadi; daun basah, benang, lipatan dst.
-menata ruangan
-menggambar kotak bekas, batu, atau gerabah atau kaleng bekas

seni rupa

APRESIASI SENI RUPA ANAK


Apresiasi Seni Rupa Anak
Kegiatan Belajar 1
Manfaat Belajar Seni bagi Anak Usia SD
  1. Rasa seni seseorang hadir sejak ia dilahirkan walaupun kualitas rasa seni setiap orang tidak sama. Hal ini dapat diketahui melalui bersolek bermain dengan teman-teman tertentu, mencoret-coret ditanah. Karena setiap orang mempunyai naluriah seni maka diperlukan pendidikan seni disekolah.
  2. Dalam proses berkarya seni antara pikiran dan perasaan anak usia dini masih bercampur. Mereka belum bias membedakan makna berpikir dengan merasakan, semua menyatu dalam kegiatan yang bersifat refleksi.
  3. Proses komunikasi yang terjadi pada anak yang sedang berseni adalah komunikasi intrapersonal, yaitu dirinya menjadi pusat pandangan kejadian sehari-hari yang memunculkan pemikiran personal atau ke “aku”an.
  4. Pada usia 7 sampai 8 tahun merupakan usia perkembangan penalaran anak,yaitu perasaan dan pikiran mulai berkembang memisah.
  5. Hakikat belajar seni rupa yang mengutamakan breaktifitas mencipta, menuangkan ide, imajinasi sebagai pembinaan cipta. Mengamati, merasakan dan mengapresiasi objek fisik maupun gerak adalah pembinaan rasa. Sedangkan berkarya dengan baik, tepat bentuk, keterampilan mencipta adalah pembinaan karsa.
Kegiatan Belajar 2
Karakteristik Seni Rupa Anak
Melukis bagi anak merupakan kegiatan berimajinasi yang dituangkan pada bidang datar, tetapi menggambar bagi anak hampir sama dengan melukis, sebab agak sulit dibedakan antara menggambar dan melukis pada karya seni rupa anak. Namun bagi orang dewasa menggambar adalah merekain bentuk benda alam atau yang lain kebidang datar dan dinyatakan sesuai dengan apa adanya, sedangkan melukis mengekspresikan objek yang kemudian diolah oleh pikiran estetisnya kemudian diungkapkan pada bidang datar.
Cirri umum lukisan anak: heroism, lukisan yang selalu menggambarkan kepahlawanan, kepatriotan; dekoratif, ditandai dengan munculnya bentuk-bentuk konstruktif yang berupa garis yaitu banyak menggunakan garis apbila menggunakan warna cenderung dengan warna blok yang memiliki nuansa sedikit gaya komik, gaya lukisan anak dengan memanfaatkan cinta lebih dahulu atau anak sambil asyik menggambar sambil bercerita sehingga gambar ini sudah mirip dengan cerita; gaya patut, yaitu suka menggambarkan wajah seseorang yang merupakan tokoh idolanya atau tokoh yang sering bergaul dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Belajar 3
Periodisasi Gambar Anak
1 . Berseni bagi anak merupakan perilaku yang wajar, dikerjakan oleh anak setiap hari dalam kapasitas yang variatif. Seni bermanfaat ganda bagi anak:
  1. Seni sebagai bahasa visual,artinya seni berfungsi sebagai alat mengutarakan pendapat, dan ungkapan perasaan: duka-sedih, gembira-senang, keinginan dan gambaran masa depan, serta mencatat peristiwa yang pernah dialami.
  2. Seni membantu pertumbuhan mental, artinya seni dapat digunakan untuk melatih pikiran, imajinasi,penalaran, perasaan, keindahan, social, agama, maupun toleransi yang bersifat apresiatif.
  3. Seni membantu belajar bidang studi lain, artinya melalui seni anak akan terasah visual intelegensinya sehingga mudah mengungkap hal yang visual, disamping melatih imajinasi untuk belajar sejarah dan melatih belajar komprehensif dengan latihan menggambar suasana.
  4. Seni sebagai media bermain, artinya mengembangkan belajar melalui permainan seni, dengan seni anak akan mempunyai kesenangan bermain yang positif.
2 . Seni rupa anak mempunyai karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa; anak melukis merupakan kebutuhan kedua setelah makan dan minum. Melukis sama dengan menggambar karena proses berkarya anak belum stabil. Sedangkan tema lukisan anak bermacam-macam, mulai dari tema lingkungan disekitar anak, tema yang pernah dialami, kejadian yang menimpa anak, pikiran masa depan, film, gambaran masa depan, dan cerita kepahlawanan.
3 . Walaupun demikian lukisan anak mempunyai cirri umum; cirri ini bersifat variatif. Artinya cirri tersebut kadangkala terdapat pada lukisan anak, namun tidak terdapat pada lukisan anak yang lain. Ciri tersebut adalah: (a) tema berupa wiracarita, komik,potret; (b) sedangkan komposisi:juxta position, folding over, rabatement, X-ray stereotype; kemudian (c) tipe gambar: haptic, non haptic, dan willing type.
4 . Ternyata cirri umum lukisan anak juga di pengaruhi oleh perkembangan setiap tahapnya. Gambar anak dapat dikategorisasikan menjadi: (a) masa coreng moreng pada usia 2-4 tahun, ditandai dengan gambar yang masih belum stabil. Anak member judul belum tetap dan kadangkala gambarnya  pun masih manusia tulang, (b) masa prabagan usia 4-7 tahun, masih melanjutnya manusia tulang, namun sebagian sudah memberi pakaian dan menandainya dengan bentuk rambut, pakaian serta property. (c) masa bagan usia 7-9 tahun, anak sudah mampu membedakan dengan jelas jenis kelamin dalam gambarnya. Namun belum menunjukkan konsep yang matang tentang judul terhadap bentuk gambar. Pada usia tertentu anak masih bersifat stereotype. (d) masa realisme awal usia 9-11 tahun ini anak mampu mengungkapkan persepektif, namun belum sempurna. Hal ini disebabkan masa egoisme masih kuat sehingga komposisi gambar berupa juxta dan rabantment; dan (e) masa realisme semu, anak mampu mengemukakan detail gambar sesuai dengan posisi; gambar potret dan gambar manusia mulai dilakukan dengan mengidentifikasi karakter jenis kelamin, namun anak kesulitan menggambar perspektif.
 
Copas miLik :